Adi Sunata “Kalau mau mengubah nasibmu, ya buka sendiri jalan hidupmu”

Adi Sunata “Kalau mau mengubah nasibmu, ya buka sendiri jalan hidupmu”

Adi Sunata, seorang pengacara muda asal Mungkid, Magelang, Jawa Tengah yang lebih akrab dipanggil mas Adi ini, dibesarkan di tengah- tengah keluarga yang mayoritas bergerak dibidang hukum. Hal ini merupakan salah satu faktor yang membuat mas Adi untuk ikut berkecimpung di dalamnya (ranah hukum.red). Saat Jodenesia bertemu dengan mas Adi di Kopitiam Oey Jogjakarta, beliau bersedia untuk sedikit berbagi cerita tentang pengalaman dalam membangun usahanya. Check it Out!!!! :)

Menempuh perjalanan dibidang hukum, sudah dimulai mas Adi ketika kuliah di fakultas hukum UGM Yogyakarta. ” Kuliah saya selesainya termasuk lama dengan nilai kelulusan yang cukup rendah”, cerita mas Adi. Hal itu tidak lantas membuat seorang Adi Sunata berkecil hati. Berbekal pengalaman kerja menjadi seorang asisten pengacara didalam sebuah firma yang dikelola oleh dosennya sendiri semasa kuliah, memberi banyak koneksi dan jaringan dari berbagai kalangan yang dapat digunakan sebagai modal dalam merintis usahanya.

Sempat beberapa kali mencoba berbagai bidang pekerjaan sebelum akhirnya memulai usahanya dengan membuka kantor hukum di daerah Baciro, Jogjakarta bersama beberapa teman. ” Ada yang ga sreg aja dengan kerja ikut orang lain, ditambah aku lebih suka kerja yang tantangannya, ya mengalir saja… nah akhirnya bermuaralah disini (pengacara.red) :). Mencari nasi dari usaha sendiri itu lebih memuaskan daripada mencari nasi di tempat orang. Kerja ikut orang itu terlalu datar, tidak bisa fluktuatif. Kalau kerja sendiri, jadi bisa punya target yang harus dikejar, dan berusaha lebih optimal dan tentu saja hasil yang lebih memuaskan :) ” , tandas mas Adi. Banyak cerita baik suka dan duka maupun diantara keduanya, melakukan sesuatu yang benar- benar disukai dan banyak belajar dari pengalaman, mempunyai daya tarik tersendiri bagi mas Adi, ” terutama tentang kenyataan di dunia hukum yang kadang jauh panggang dari api ” imbuh mas Adi. Penuh perjuangan, gaji dibawah UMR sempat dirasakan beberapa bulan pertama saat usahanya berjalan, karena klien yang belum begitu banyak, masalah negoisasi harga, ” dan ada beberapa klien yang permintaanya macam-macam, tapi kalau sudah masalah pembayaran susahnya luar biasa :) ” kenang mas Adi.

Kasus yang sudah ditangani oleh mas Adi dan teman- temannya sudah lumayan banyak dan bermacam- macam, ” kalau masalah hambatan ya pasti selalu ada, karena biasanya orang dateng ke kantor pengacara itu setelah semua usaha yang mereka lakukan tidak berhasil :) ” kata mas Adi. Beberapa kali menangani klien dengan latar belakang IT (produk IT), membuat mas Adi terlihat bersemangat ketika berbicara tentang isu- isu IT yang sedang fenomenal mulai dari UU ITE sampai masalah SOPA/PIPA baru- baru ini, sampai- sampai saya (penulis.red) jadi bengong dengerinnya.. asyik banget hehehehe…

Beberapa tahun di Jogja, usaha yang dirintis oleh mas Adi dan teman- temannya dirasa semakin meningkat. Pada pertengahan tahun 2011 kemarin, mas Adi memberanikan diri untuk hijrah ke Ibu Kota (Jakarta .red) untuk mengembangkan usahanya dengan mendirikian perkumpulan perdata sekaligus membuka kantor di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Meskipun berkantor di Jakarta, akan tetapi klien yang ditangani oleh mas Adi berasal dari berbagai daerah seperti Jogjakarta, Semarang, dan Solo. Seringnya mas Adi menangani klien ke daerah- daerah tersebut, membuat mas Adi selalu mempunyai waktu tersendiri untuk bertemu saudara dan teman- temannya sekaligus menyempatkan diri untuk pulang ke rumah orang tuanya di daerah Mungkid, Magelang, Jawa Tengah.

Mas Adi pun sempat memberikan motivasi berupa pesan kepada Jodenesia, dan mungkin akan berguna bagi kita semua, “nikmati hidupmu, bahagialah dengan apa yang kamu punya, bercita-citalah tinggi, dan bekerjalah kalau mau sukses. jangan tergantung pada orang lain, kalau mau mengubah nasibmu ya buka sendiri jalan hidupmu.” Itulah pesan yang yang disampaikan, dimana kita harus selalu bersyukur dan selalu berusaha dalam menjalani hidup.

One Response to Adi Sunata “Kalau mau mengubah nasibmu, ya buka sendiri jalan hidupmu”

  1. Pak Irwan, apa dasar penentuan/penetapan renikja sebuah lembaga kursus dan pelatihan. Kami di jakarta barat dihubungi oleh petugas verifikasi untuk menginformasikan jadwal, padahal kami tidak pernah mengajukan permohonanan untuk dinilai, sehingga kami agak kelabakan bukankah sebaiknya LKP diberitahu lebih awal sehingga bisa melakukan persiapan.Kl boleh usul kepada pemerintah lakukan sosialisasi sebelum program ini dilaksanakan, jika tidak demikian kami merasa dirugikan karena tidak benar-benar siap.Soal lain lagi, kami mengirimkan permohonan untuk di akreditasi sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya. Mohon penjelasan, apa beda Akreditasi dengan penlaian renikja lembaga kursus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>