Ucok Hutabarat “Tidak mengindah- indahkan dan Tidak mengada- ada”

Ucok Hutabarat “Tidak mengindah- indahkan dan Tidak mengada- ada”

Ucok Hutabarat, seorang pemuda yang berasal dari sebuah desa yang bernama Taruntung di daerah Tapanuli Utara, Sumatera Barat dan lebih kerap dipanggil bang Ucok ini, mempunyai segudang pengalaman dalam hal bermusik. Biola, alat musik yang menunjang karir dan eksistensinya dalam dunia seni pertunjukan, baik secara lokal maupun nasional. Kesempatan untuk ngobrol bareng bang Ucok setelah pulang ke Jogja usai pentas di Pontianak, sesudah Konser bersama Kantata Barock di Gelora Bung Karno beberapa waktu lalu, baru bisa terwujud.  Seperti apa cerita tentang pengalaman bang Ucok, check it out!!!

Alasanmu main biola apa bang?

Dulu tidak pernah bercita- cita untuk jadi seorang pemain biola, karena di kampungku yang ndeso belum ada trend jadi anak band. Setelah lulus SMP aku milih sekolah di luar SMA, karena aku sadar akan kemampuan berhitungku yang agak lemot, jadi milih Sekolah Menengah Musik, nah berawal dari sanalah aku maen biola. 3 tahun di Sekolah Menengah Musik Medan,  semenjak itu aku sudah nyaman dengan dunia musik yang kupilih dan menjadi jalan hidupku. Lulus dari sana, aku bercita cita ingin melanjutkan kuliah di salah satu brosur kampus yang datang dari Jogjakarta ( ISI ) dan kebanyakan kakak kelasku yang udah lulus, punya target untuk melanjutkan studinya ke ISI. saat pertama kali aku utarakan niat mau ke ISI, kedua orang tuaku lumayan kaget atas pilihanku untuk berangkat ke Jogja, Bagi orang tuaku, kota Jogjakarta adalah kota pelajar yang sangat amat susah dimasuki oleh anak- anak desa kayak aku. Orang tuaku adalah orang tua yang selalu mendukung kemanapun anaknya akan bersekolah, tapi entah kenapa kurang begitu mendukung dengan keputusanku untuk pergi ke Jogja, apa gara- gara mereka tau aku gak akan mampu untuk lulus ujian ISI ya? hehehehe.

Keputusan sudah bulat, akhirnya memberanikan diri berangkat ke Jogjakarta dengan naik bis dari Medan ke Jogja dengan perjalanan kurang lebih selama 3 hari 3 malam. Sampai di Jogja, aku test ujian di kampus ISI jurusan musik, fakultas seni pertunjukan. Tidak ada angan- angan kalau bakalan diterima, dan aku sudah siap mengulang di ujian tahun depan seandainya tidak lulus ujian. Eh, ternyata aku mampu dan lulus masuk ujian ISI, pada saat itu kedua orang tua dan saudara- saudaraku tidak ada yang percaya saat aku kirim kabar kalau aku lulus ujian masuk ISI.  Surat peryataan dari kampus ISI yang menyatakan bahwa aku lulus ujian aku kirimkan ke orang tuaku lewat kantor pos, dan mereka malah menganggap surat keputusan lulus itu aku yang buat sendiri .. hahaha.., karena mereka selalu tidak yakin kalau aku bisa lulus ujian. Aku harus menunggu selama 6 bulan untuk mendapatkan kepercayaan dan pengkuan dari orang tua dan saudara- sudaraku, itu pun setelah aku mengirimkan kartu lembaran SKS dan surat peryataan aktif kuliah yang aku minta dari bagian tata usaha kampus ISI, barulah mereka percaya.. hahahaha..

Pengalaman sebagai violist?

Ucok Hutabarat PerformTahun 1998 aku memulai main band di Jogja, namanya LAPEN 151%, dari sana aku mulai mengembangkan sayap dan  kesana-sini ikut proses berkesenian dan bermusik. Ngamen di sepanjang jalan Malioboro dan jalan Solo juga salah satu pembentukan mentalku, harus main biola diantara kebisingan suara kendaraan dan manusia, juga sempritan si abang jukir (juru parkir). Tapi aku beryukur karena bisa menjalani semua itu. Ternyata kemampuan seseorang mengolah diri bukan hanya dari lembaga formal saja, ada beberapa hal yang tidak bisa didapat disana (kampus.red). Dari berbagai macam band dengan perbedaan karakter dan genre musik dari masing- masing band, mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap karakterku menjadi pemain biola. Lapen 151% dengan musik rock entik nya, Congpic dengan keroncong pop nya, Wisanggeni (semarang) dengan balada dan musikalisasi puisinya, Aji Wesi dengan kontemporernya, Yayi Kakang dengan world music-nya, semua aliran itu ada dan melekat menjadi satu karakter, dan muncul disaat aku bermain biola, ditambah lagi setelah ikut dengan Sawung Jabo (tahun 2004.red), dengan Beliau, aku banyak mendapatkan hal- hal dan pengetahuan yang tidak hanya sekedar bagaimana bermain musik dengan benar, tetapi “bagaimana bermain musik dengan benar dan membuat musik itu menjadi indah sesuai kebutuhannya, tidak mengindah- indahkan dan tidak mengada- ada“. Saat ini aku masih aktif dibeberapa band , ada IL (Jogja), Sawung Jabo, Kantata Barock, Sirkus Barock, Jayagatra (Semarang), Stroberi (Bandung), Ella und Freunden (Jogja), Star (Bandung), Inprogres (Jogja), dll. hahahaha…. ini kutukan yang harus aku hadapi dan aku harus mengubahnya menjadi kebahagiaan bagi yang mendengarnya nanti :).
Tapi ada pengalaman yang paling menarik dan lucu waktu main biola, ketika aku pentas di acara resepsi pernikahan kakaknya temenku, aku harus main biola sambil dicekokin AO (Anggur Orangtua .red) dan gak tau lagi apa yg kumainkan… hahahahahhaha.

Biola, menurut sudut pandangan Anda?

biola ga pernah ku pandang, biola selalu kumainkan… kalau dipandangin aja mana bisa datangkan uang wakakakakaka. Bagiku sih, pemain biola itu seperti pohon kelapa yang selalu bergoyang sendiri mengikuti irama nada- nada yang dimainkan tangan.

Kalau kalian ingin kenal lebih dekat dengan Ucok Hutabarat, silakan follow @ucok_hutabarat atau kalian bisa kunjungi Facebook Page-nya. (nsbx

5 Responses to Ucok Hutabarat “Tidak mengindah- indahkan dan Tidak mengada- ada”

  1. iradat says:

    Tulang,ini aku iradat kawan nya s maria…Bere mu
    aku kuliah d tarutung,jur.musik gerejawi
    skrang aku semester 6,instrumen mayor ku biola juga,

    aku jadi terinspirasi melihat biografi dan sejarah perjalanan musik nya tulang
    mmbuat aku termotivasi lebih lagi untuk belajar seperti anda.
    Klo bisa,tamat dari sini boleh ga???
    hhmmmm Ngekor ke sana sama tulang….Leat2 ajj Pleassseeeeeeeeee yayaya
    Disini kami Tumpul….hahahahaa kaya pisau ga di asah

    Bravo musicca…Nice to know U
    Bang Ucok “Barat

  2. Omnia says:

    aku baru saja berkenalan agendn seorang OB yang sudah sepuh tapi wajahnya terlihat selalu cerah dan murah senyumseolah-olah pekerjaannya sebagai OB adalah pengabdiannya dalam hidup iniketika akhirnya sempat ngobrol, ternyata agendn gajinya yang pasti pas-pasan dia mampu menyekolahkan anaknya di Fakultas Teknik UGM dan sudah lulusketika kutanya, apa pernah ikut ESQ.kok bisa tenang menghadapi hidup ini? ternyata benar, dia sudah ikut ESQ [biaya darimana lagi tuh?]dia anggap pekerjaannya adalah ibadahnya untuk menjemput saat nanti dia dipanggil oleh Penciptanya.ruar biasasalam[]

  3. Astrid says:

    Love the blog

  4. MudaMudi says:

    noted!! terimakasih untuk ralatnya ya… :)
    kalau mau ikutan berbagi cerita, silakan kirim ke sekedar.berbagi@jodenesia.com
    atau lihat keterangan di http://jodenesia.com/contribute/

  5. Ella says:

    Wow! Tidak mengindah2kan, tetapi indah… :)
    Godspeed buat semua usaha dan karya2mu Bang…
    Oiya, Ella und Freunden yah, band yg Jogja…
    Mirip kaya nama saya… Hihihi ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>